Deskripsi
Buku ini adalah lanjutan dari perhatian terhadap bahasa Arab di Dataran Tinggi
Gayo. Dalam buku sebelumnya, Bahasa Wahyu di Negeri Kopi, telah dikaji
pertemuan bahasa Arab dan bahasa Gayo dari segi bunyi, kosakata, struktur, ritual,
dan ruang digital. Buku ini melangkah ke pertanyaan berikutnya yang sangat praktis:
bagaimana bahasa Arab sebaiknya diajarkan kepada anak-anak, remaja, dan
mahasiswa di tanah tinggi ini?
Pertanyaan ini tidak dapat dijawab hanya dengan menyalin metode dari buku
buku pengajaran bahasa yang ditulis untuk konteks lain. Pembelajar di Aceh Tengah,
Bener Meriah, dan Gayo Lues tumbuh dengan bahasa Gayo, mengenal didong dan
kekeberen, belajar mengaji di mersah, hidup di antara kebun kopi dan danau, dan
sebagian bersekolah di wilayah yang jaringan internetnya terbatas. Semua itu adalah
bagian dari diri mereka ketika masuk ke kelas bahasa Arab. Strategi pembelajaran
yang baik adalah strategi yang menjadikan semua itu sebagai sumber belajar, bukan
sebagai hambatan.






Ulasan
Belum ada ulasan.