Deskripsi
Bencana alam tidak hanya meninggalkan reruntuhan yang tampak oleh mata ia juga menorehkan luka diam di dalam diri anak-anak yang selamat. Luka itu tidak berteriak, tidak mudah dikenali, dan sering kali terabaikan di tengah hiruk-pikuk pemulihan fisik. Anak yang tampak “baik-baik saja” belum tentu benar-benar pulih. Di balik kediaman mereka, tersimpan pengalaman yang belum memiliki bahasa untuk diungkapkan.
Buku ini hadir sebagai jawaban atas pertanyaan mendasar: bagaimana kita membantu anak memproses trauma, ketika kata-kata saja tidak cukup? Melalui integrasi Art Therapy dan konseling sensorik, buku ini menawarkan pendekatan pemulihan yang menyentuh tiga dimensi sekaligus ekspresi emosional, regulasi sistem saraf, dan rekonstruksi makna. Seni menjadi jembatan bagi anak untuk menuangkan dunia batin yang tak terucapkan, sementara stimulasi sensorik membantu tubuh belajar kembali untuk merasa aman.
Disusun berdasarkan kajian teoritis mutakhir dan model intervensi yang terstruktur, buku ini mengajak pembaca memahami trauma anak secara utuh dari neurosains hingga praktik lapangan. Dilengkapi dengan tahapan pelaksanaan, panduan pemilihan media terapi, hingga studi kasus nyata, buku ini dirancang sebagai panduan praktis yang dapat digunakan oleh konselor, psikolog, pendidik, dan pekerja sosial di garis terdepan pemulihan pascabencana.






Ulasan
Belum ada ulasan.